April 19, 2010

Mau Dulu maupun Sekarang, Kartini adalah Kartini

Ketika kita mendengar kata “KARTINI” apa sih yang terbayang atau muncul di pemikiran kita? Pasti tidak akan jauh dari sosok perempuan Indonesia dari masa lalu yang bernama Raden Ajeng Kartini, yang terkenal dengan perjuangannya untuk membawa perempuan Indonesia untuk lebih maju dan membela hak-haknya. Kartini sangat identik dengan istilah emansipasi wanita. Namun apakah benar bahwa dirinya sendiri (Kartini) melakukan tindakan nyata untuk mewujudkan emansipasi wanita tersebut di jamannya? Tak ada yang tahu.

Semua berasumsi bahwa Kartini tempo dulu telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan apa yang dicita-citakannya, yang membuat sosoknya sangat dikenal hingga detik ini dan diperingati secara khusus setiap tanggal 21 April.  Sosok pejuang persamaan hak antara wanita dan pria ini terus mendapat sorotan bahkan menjadi patokan akan keberadaan wanita saat ini. Menjelang tanggal 21 April, pasti banyak lembaga-lembaga di Indonesia, baik lembaga pendidikan maupun lembaga atau organisasi yang berorientasi pada ekonomi (baca: perusahaan), yang berusaha menunjukkan sosok Kartini di masa kini.

Media massa sebagai salah satu wadah inspirasi masyarakat sepertinya memandang bahwa perempuan Indonesia saat ini sedikit banyak masih menganut nilai-nilai Kartini tempo dulu, khususnya dalam hal semangat untuk terus maju, berkarya, serta perannya dalam hidup bermasyarakat. Banyak media massa, terutama ketika mulai memasuki bulan April, mulai memunculkan berbagai artikel atau liputan-liputan khusus yang mengangkat isu tersebut, seakan-akan menjadi kewajiban mereka untuk terus menyampaikan keinginan R.A.Kartini. Wanita-wanita di Indonesia diajak untuk meneruskan perjuangan Ibu Kartini dan terus menjadi sosok unggul di dalam masyarakat tanpa meninggalkan tugas-tugasnya di rumah tangga.

Ya, inilah realita yang terbentuk dengan sendirinya dan harus dihadapi oleh seluruh wanita di Indonesia. Sosok wanita akan selalu dikaitkan dengan rumah tangga dan perannya sebagai istri/ibu sekaligus “charming person” di sebuah organisasi. Ketika seorang wanita memutuskan untuk lebih berfokus pada kehidupan pribadinya sendiri maupun organisasi saja, wanita tersebut akan selalu mendapat batu sandungan dari sekitarnya. Ketika seorang wanita mengalami kegagalan dalam berumah tangga hanya karena dia aktif di kegiatan luarnya, wanita itu pulalah yang akan mendapat kesan negatif.

Secara tidak langsung media massa membentuk image wanita seperti demikian. Lihat saja iklan-iklan di televisi, dimana seorang wanita selalu diidentikkan sebagai istri ataupun ibu yang harus mengutamakan kebutuhan suami dan anak-anaknya terlebih dahulu. Seorang istri harus selalu bangun lebih pagi daripada anggota keluarga lainnya untuk mempersiapkan kebutuhan harian mereka baru bisa beraktifitas ke kantor ataupun melanjutkan serangkaian aktivitas yang pada intinya adalah untuk keluarganya (memasak, mencuci, belanja ke pasar). Adapun kegiatan-kegiatan yang bersifat “fun” selalu digambarkan hanya dilakukan oleh remaja ataupun dewasa muda yang belum mencapai usia menikah.

Belum lagi banyaknya iklan-iklan produk kebutuhan wanita yang mau apapun produknya itu, bagaimanapun keunggulannya, semuanya berakhir pada satu hal: bagaimana menjadi sosok yang dicintai dan dihargai oleh pria. Bukan kah itu sebuah bentuk “penyepelean” akan keberadaan wanita? Seakan-akan wanita harus bersusah payah untuk mendapatkan pria yang mau dengan dirinya. Sudah bersusah payah demikian pun mereka masih harus bersusah payah untuk menjadi sosok istri dan ibu yang melindungi keluarga, seperti yang digambarkan oleh iklan-iklan lainnya.

Saya akui sungguh menjadi sosok yang “super” dan sangat luar biasa jika seorang wanita bisa menjadi sosok kuat dan tegar bagi keluarganya sekaligus sosok yang berdedikasi tinggi pada pekerjaan oirganisasinya. Saya sebagai wanita salut dengan mereka-mereka ini. Namun salahkah jika seorang wanita ingin menjadi pribadi sukses tanpa harus “diribetkan” dengan urusan rumah tangga? Apakah mereka lantas tidak bisa menjadi sosok luar biasa?

Ketika pertanyaan tersebut keluar dari mulut saya, teman-teman banyak yang langsung memprotes ataupun memberi jawaban “mengambang”. Beberapa diantara mereka menjawab “gak salah”, hanya saja mereka menambahkan bahwa hal tersebut akan menjadi benturan atau boomerang bagi si wanita itu sendiri karena di Indonesia masih tertanam nilai atau pandangan bahwa wanita harus menikah dan memiliki keluarga sendiri.

Tak bisa kah media massa mencoba untuk membentuk pikiran masyarakat untuk menerima pemikiran “aneh” tersebut? Tampaknya tidak. Se-modern apapun pandangan yang dibawa oleh media massa, mereka tetap tidak bisa menggeser nilai-nilai yang telah mendarah daging dan yang telah tertanam ratusan tahun lamanya di otak masyarakat Indonesia. Sosok kartini akan selalu digambarkan sebagai sosok wanita yang meskipun bisa sukses di dunia luar, namun tetap harus berkutat dengan urusan rumah tangga dan menjadi sosok istri ataupun ibu seperti yang dituntutkan padanya oleh masyarakat/publik.

April 16, 2010

Pendewasaan Diri

Huaaaahhh……


Sejak gw tau dya mau pindah ke bali, kok gw jd kangen ma dya hampir tiap hari gini ya? Apalagi setelah gw liat dya abis potong rambut model yang sempet gw bilang klo gw suka liat dya dengan potongan rambut gaya gitu di poto FB-nya, plus pilihan jam tangan dya yang udah gk digital kaya anak kecil lagi, tp udah yang model rantai kaya cowo2 dewasa pada umumnya, dgn merk "Fossil" tertera di tengahnya si jam, gw jd berubah gitu pandangannya ke dya…

Tapi masalahnya adalah, apakah rasa kangen yang gw punya itu beneran rasa kangen karena gw bener2 sayang ama dya ato cuman karena keegoisan gw? Gw yang gak pernah terima penolakan merasa bahwa gw gk mau dya pergi dari hidup gw cmn krn gw gk mau keilangan slh satu org pada saat gw butuh.. gw jd inget kata2 mantan gw: “Wink, elo tuh tipe org yg egois. Elo baru deket ama orang klo pas elo lagi butuh doang, begitu lo gk butuh, lo tinggalin aja dengan seenaknya, gk pernah mau perduli gmn perasaan orang tersebut”. Awalnya sih gw gk peduli, masa bodo lah… cmn semakin dewasa, gw semakin bisa mengenali diri gw sendiri, menyadari apakah semua yang gw lakuin itu menyakitkan or ngerugiin orang ato kagak.

Emang susah menjadi orang dewasa secara mental n psikologi. Even umur gw dah seperempat abad, tp tetep aja gw terkadang menemukan diri gw berpikir, bertindak n bersikap seperti mahasiswa baru or semester2 awal. Gw merasakan yang namanya “kemunduran” secara psikologi. Dulu pas gw awal kuliah gw malah ngerasa gw tuh dewasa banget, semua gw pikirin mateng2, semua possibilities gw pertimbangkan baik2 sebelum gw ngambil sebuah keputusan saking gw takut gw merugikan orang lain. But lama kelamaan gw malah jadi org yang gak peduli ama semua hal. Pas dihadapin ama pilihan2, gw bisa mutusin dalam waktu dekat tanpa peduli apa akibatnya di masa depan baik buat gw sendiri maupun org lain. yang gw iniginkan saat itu adalah kebebasan n perasaan menjadi diri sendiri. Apapun yang gw pikirkan ato lakuin semuanya only base on what I was thinking at that time and how my feeling was. Can u imagine that???

Gw akui, sampe detik inipun terkadang gw masih seperti itu, tp setidaknya gw dah berubah. Gw dah mulai sedikit aware ama kondisi n perubahan yg terjadi di sekitar gw. Gw pun dah mulai menimbang-nimbang kembali apa2 aja resiko dari setiap tindakan gw, sekecil apapun itu..

Gw akui dan sadari bahwa menjadi dewasa adalah sebuah proses. Gk gampang. Cmn gw percaya dimana ada kemauan disitu ada jalan. Gw cmn tinggal ngumpulin niat gw untuk kembali menjadi sosok dewasa dan memulainya semuanya kembali dari awal..

Itulah hidup, penuh dengan warna dan rasa yang terkadang bisa membuat orang yang merasakannya memuntahkannya kembali utuh-utuh, mati karena keracunan or mabok biat warna2nya, semaput or cmn pingsan ketika menelannya bulat-bulat, ato malah ingin memiliki setiap detail warna dan rasa yang ada hanya untuk dirinya sendiri ataupun dibagikan kepada sesamanya. Apapun yang terjadi semua kembali lagi kepada tiap2 individu. Seberapa besar niat kita untuk mencoba setiap detil hidup kita..

April 14, 2010

Enjoy Your Life !!


Lately gw bener-bener menikmati hidup gw, even sempet khawatir masalah duit n sempet ngeblank selama beberapa hari, tapi selebihnya gw bener-bener menikmati hidup.

Gw bisa pijat refleksi, facial, bergosip, nyalon ama best friend gw Tia (bukan nama sebenernya) and today gw bisa makan-makan n ngobrol heboh ama dosen gw yang baru gw ketahui bbrp bulan lalu klo ternyata sepupunya mantan gw !!! can u believe that??? Sampe kosan, msih menjadi teman curhat and sharing buat tmn kosan…


Gak tau napa gw seneng bgt jadi tempat curhatan orang, rasanya bahagia bgt bs liat org laen tersenyum kembali setelah ngeluarin segala unek-unek ataupun caci maki dan umpatan-umpatan maut dari mulut mereka ketika mereka benar-benar emosi. Yah mungkin karena gw jg gitu, kadang klo lagi super-super BT rasanya pengen teriak n ngumpat-ngumpat n sering kali ngerasa butuh someone buat ngedengerin plus bantu gw ngelihat masalah dr perspektif lain. so dengan menjadi pendengar aja gw dah ngerasa seneng bs bantu mereka.


Hampir semua temen cewe yang curhat ma gw, gk lepas dari permasalah mengenai cinta dan perasaannya ke cowo, yang ke si ini lah ke si itu lah, dll dsb. Intinya cmn 1 : mereka pengen punya cowo yang bisa terima mereka apa adanya, gentle, and berani kontak fisik dengan mereka dalam artian menunjukkan perhatian gk cmn dlm bentuk kata2 manis tp mengerti "kebutuhan" cewe untuk disentuh dalam batasan lebih di atas wajar.


Dengan memperluas jaringan komunikasi dan pertemanan, kita bisa melihat hidup dari sudut pandang lain and membuat kita jadi lebih menghargai hidup kita sendiri. Pengalaman-pengalaman orang lain bisa menjadi gambaran hidup masa depan kita, apakah kita memilih utk menjadikan hidup kita seperti hidup mereka atau malah menolaknya secara tegas.


Sebenernya gw salut n bangga ama org2 yang sudah tau apa yang mereka inginkan buat hidup mereka. Kaya dosen gw itu, dia selalu bisa mendapatkan apa yang dia inginkan and dia happy dengan hidupnya. Mantan gw yang jg sepupunya, skrg dia bingung apakah akan menerima tawaran kerja di bali atau tidak karena dia masih punya mimpi yang belum kesampean. Temen gw yang laen, dia bisa melanglang buana sampe ke eropa cmn krn dia nyenengin dunia tarik suara n focus pada PSMnya dan skrg dia lg cari info buat permanent resident di salah satu Negara eropa tersebut. Temen gw yg laen, even ampe skrg kuliah s1nya gw gk tau dah kelar ato belon, tp dia enjoy ama hidupnya. Dia justru lbh banyak menghabiskan waktu utk pergi ke daerah-daerah sbg sukarelawan. Meski dia bilang krn lg ngejer cowo yang jd sukarelawan dokter, tp dia terlihat sangat menikmati hidupnya.


Gw sih selalu yakin bahwa hari esok itu ada. Klo pun kagak, ya gw gak akan pernah nyesel karena sudah menikmati hari ini. Ada bagusnya ada jeleknya. Bagusnya ya itu tadi, jeleknya? Gw termasuk org yang not well-prepared. Tp gw enjoy ama kehidupan gw yg kaya gini…


Ada banyak cara untuk menikmati hidup, beberapa diantaranya ya kayak tmn2 gw and gw sendiri… apapun yang kamu jalani, itu adalah hidupmu sendiri. Jangan pernah menyesali kehadiran dirimu di dunia, namun gunakanlah setiap detiknya untuk dinikmati. Sesusah atau sesulit apapun hidupmu, syukurilah bahwa kamu masih diberi nafas. Lakukan apapun yang mau kamu lakukan dan nikmati hidupmu, asal kamu tau apa resikonya dan berani mengahadapi resikonya, jangan kabur dari masalah ok?


 

Enjoy your life cos u just life right now, you wont get another time to re-life !!!